Thursday, 15 December 2016

Trip to Batam (home sweet home)

Assalamualaikum dan selamat siang semuanyaaahh...

Mau share dikit cerita perjalanan saya pulang ke Batam yach.

Lebih dari 1 Tahun yang lalu terakhir saya menginjakkan kaki di Batam. Rupanya ada yang sudah berubah dengan Batam dan juga bagian bagian yang masih sama. Menyimpan kenangan dan cerita saat pertama kalinya menginjakkan kaki pada 2010 silam. Dan Alhamdulillah 10 Des kemarin diberi rejeki Allah untuk menengok rumah saya. Namun, saya tidak akan bercerita panjang lebar, skip skip cerita dan akan lebih banyak menjelaskan di caption foto.

Begini ceritanya...KisMis...☠

Berangkat dari Pelabuhan International Stulang Laut Johor pukul 16.30 dengan kapal yang berjudul Citra Indomas, saya membeli tiket PP sebesar RM82+RM44 = RM126. Namun tiket kembali ke Malaysia nanti harus ditambah lagi sebesar Rp.115ribu untuk charge seaport tax saat check in di counter ferry yang akan dinaiki. Lama perjalanan sekitar 2 jam include dengan antrian imigrasi di Indonesia.

Yang atas adalah tiket yg diberikan oleh operator ferry di Malaysia, sedangkan yang bawah berwarna hijau adalah tiket yang didapat dari operator ferry di Indonesia setelah melakukan pembayaran Seaport Tax.

Kalo dibanding dengan 4 tahun lalu, Pelabuhan International Batam Center ini sudah banyak sekali perubahan. Restoran ayam goreng juga sudah ada di lantai 2, dan musholla yang terpisah antara muslimin dan muslimat di lantai 3.

Walaupun travelling kemanapun jangan lupa ibadah berjamaah. Tidak ada berubah dengan Masjid Raya Batam yang terletak di sebelah alun alun Engku Putri, masjid yang tiap sabtu dan minggu ini selalu ada aktivitas di dalamnya. Dan Alhamdulillah beberapa kali kemarin kesini jumlah shaffnya semain bertambah.

Bergeser ke Engku Putri sejenak ya. Tempat idola para muda mudi dan keluarga untuk berolahraga. Nih oleh olehnya hehe. Masyarakatnya ata pemerintah daerahnya?? Silahkan dipikir sendiri.

Puas mengelilingi Engku Putri dan Masjid Raya, waktunya tancap gas ke Ocarina. Penjual bunga dan tanaman taman di sepanjang jalan simpang sekitar Ocarina kini sudah tidak ada lagi. Tidak tahu juga direlokasi kemana semua penjual itu. Hikmahnya jalan semakin lebar, termasuk juga di arah sebaliknya.

Yah, akhirnya sampai di Kawasan Pariwisata Ocarina di hari libur. Tiket masuk per orang Rp.20ribu dan tiket parkir mobil Rp.5ribu. Buka mulai pukul 9 pagi. Namun begitu banyak pemandangan yang tidak selayaknya ditemui disini. Bisa dibilang pengelolanya tidak profesional dalm mengelola tempat ini.

Banyak sampah mengelilingi 7 buah gazebo di area ini. Si cleaning service baru nampak saat pengunjung sudah ramai memenuhi pantai untuk memungut dan menyapu sampah yang berserakan. Harusnya bagaimana?

Musholla yang tidak layak guna, entah najis atau tidak. Ranting ranting pohon pinus yang tidak dibersihkan dan sekelilingnya tidak beri "police line" karena dalam tahap permbersihan. Penistaan bukan yah?

 
Hewan peliharaan yang bebas berkeliaran di arena ini dan bahkan masuk ke dalam gazebo yang digunakan tidur tiduran oleh para pengunjung. Itu dog lho, bukan fish hehe...

Sekeluarnya dari Ocarina nampak pemandangan yang cukup miris. Judulnya REKLAMASI!!. Seandainya Gubernur Kepri ini adalah Ahok mungkin bakal tidak berjalan mulus proyek ini. Padahal Batam masih banyak area daratan di Batam yang belum tereksplorasi.

Perjalanan saya geser ke destinasi paling mainstream di Batam yaitu Jembatan Barelang (Batam - Rempang - Galang). Kini sudah ramai pemukiman di sepanjang jalan menuju jembatan ini. Bahkan beberapa pemukiman diantaranya adalah hunian kelas menengah ke atas yang menjual view kawasan ini. Dan jalannya sudah cukup representatif untuk layak disebut sebagai kawasan wisata.

Dulu jalan ini hanya 2 lane kontra saja. Kini, perlahan sudah mulai jadi 4 lane dan dibagi jadi 2 sisi. Nampak tiang jembatan dari kejauhan.

Tempat parkir dan Dataran Barelang yang digunakan pengunjung untuk berfoto ria dengan background jembatan Barelang. Masalah umumnya adalah sampah berserakan, susahnya nyari tempat sampah, dan parkir sembarangan.

Kondisi jembatan ketiga yang relatif lebih tenang dan dijadikan tempat paporid oleh para mancing mania. Kalo kamu kesini, sempatkanlah ke jembatan ketujuh, tapi yang sabar ya dan dilarang mengeluh hehehe...

Kini waktunya makan siang. Seperti biasanya, jika makan siang saya selalu menyempatkan diri ke Restoran Seafood Jawa Melayu Piayu. Walopun jaraknya jauh, mahal dan antrinya bisa mencapai 1 jam untuk menunggu makanan siap dihidangkan, tapi senilai dengan rasa dan sensasinya makan di tepi laut. Actually, ada banyak restoran disini, tapi saya lebih prefer restoran yang ini (bukan cerita berbayar) karena yang lainnya kebanyakkannya non muslim yang jadi pengunjungnya.

Beginilah cara restoran ini membeli ikan yang menjadi bahan jualannya. Nelayan setempat akan datang membawa hasil tangkapannya ke mini pelabuhan restoran,  lalu si owner restoran akan membeli ikan dengan tariff per kilo.

Buat para pengunjung yang makan disini akan disediakan kotak putih yang isinya ikan & kepiting yang diorder. Kemarin saya order nasi putih, kepiting saos, ikan krapu, sayur baby kailan, es jeruk, peyek 2 bungkus, es degan, totalnya Rp.240ribu. Sengaja tidak saya foto hehe.

Sangat ramai di saat lunch, dan bisa jadi antri dulu untuk bisa mendapatkan meja kosong. Tempatnya tidak kotor dan tidak juga bersih. Parkirannya juga radak full, seali parkir Rp.5ribu.


Sedangkan ini adalah suasana makan siang di restoran Rezeki di daerah Nongsa, hampir serupa dengan yang di Piayu, hanya saja akan sering nampak pesawat terbang akan mendarat jika makan disini. Tapi disini LEBIH BERSIH DAN LEBIH CEPAT PENYAJIANNYA. Kemarin order 2 peyek, jus tomat, ikan kakap, cap cay, udang, totalnya Rp.270ribu. Sorry ga ada fotonya lagi.

Penasaran dengan keadaan kota, akhirnya saya mencoba meluncur di kawasan Nagoya, dan wooowww jalannya makin lebar mas bro. Oh iya, kalo mau tukar duit saya sarankan ke money changer yang berada di seberang Nagoya Mall. Rate nya lebih bersahabat

Karena ngidam rujak, kemana lagi kalo bukan di Seraya. Dan ternyata kawasan PKL Rujak buah di jalan yang rindang ini sudah di relokasi di halaman Supermarket Giant. Katanya sih mereka pindah setelah lebaran kemarin. Biaya sewa di tempat baru yaitu Rp600eibu/bulan, kalo di tempat sebelumnya ya gratis aja. Ini semua merupakan keputusan Pemko Batam, kata mereka.

Di sepanjang jalan sebelah kiri ini dahulu dipenuhi dengan gerobak penjual rujak buah.

Kawasan Rujak Batam di halaman Giant Bengkong. Kini semua penjual rujak buah terpusat disini, walopun ada beberapa pedagang yang masih berada di sekitar kawasan yang lama.

Beginilah tampak depan gerobak rujak buah di Batam. Menarik selera kan? Wajib dicoba sensasinya makan rujak di kawasan ini.

Nah, sekarang waktunya makan malam. Warung Djava milik teman saya Cak Eddy ini menjadi langganan saya kalo saya ke Batam. Warga asli surabaya yang juga bonek ini menjual makanan khas Jawa Timur sejak beberapa tahun yang lalu. Tahu campur dan soto ayamnya maknyusss pemirsa. Kudu dicoba kalo kamu doyan masakan Jawa Timur, harganya juga bersahabat banget.

Letaknya di kawasan Mega Legenda - Batam Center, disini banyak warung warung makanan yang akan menggugah selera kamu. Tapi pilihanku tetap warung Djava milik Cak Eddy.

OK, waktunya balik ke habitat kerja. Sebelum masuk ferry menuju Johor, kita ngeteh dulu di restoran yang ada di dalam pelabuhan. Harganya ya wajar kalo mahal karena memang sewa kedainya juga mahal. Kalo kamu mau makan diluar ya juga bisa, atau juga bisa melalui jembatan yang tersambung ke Mega Mall.

Ini harga Teh Hangat, ga perlu saya upload semua harga makanannya. Takut kalian semua nanti ga enak makan dan minum hehe.

Ini suasana di dalam ferry yang relatif sepi. Tapi di dalamnya cukup menghibur karena ada film box office yang diputer oleh crew kapal.

Sekian dulu ya ceritanya, kalo ada hal yang ingin ditanyakan silahkan komen aja, tidak dipungut biaya. Terima kasih dan Sampai Jumpa di trip selanjutnya. Wassalamualaikum...

No comments:

Post a Comment