Monday, 6 February 2017

Ke Thailand via Kelantan dengan berjalan kaki

Assalamualaikum Wr. Wb. & Selamat Tahun Baru China buat kamu yang merayakan liburan kemarin hehe…

Sorry kalo cerita kali ini agak telat publish-nya, maklum sebagai supir baru dapat waktu senggang pas berada di pesawat menuju Yogyakarta, dilanjutkan di kantin Hospital University Kebangsaan Malaysia sambil nunggu nyonya yang lagi kontrol. Tapi yang penting saya tetap tidak pelit, baik hati dan tidak sombong untuk berbagi info mengenai perjalanan saya ke Narathiwat Thailand tanggal 30 Januari kemarin dengan berjalan kaki & ojek (taksi sepeda motor).

Jauh sebelum entry ini ditulis saya sudah punya rencana untuk masuk ke Thailand melalui jalur darat, entah menggunakan kereta api, bus, sepeda motor, mobil atau berjalan kaki. Pokoknya jalur darat. Dengan destinasi tidak jauh dari border seperti Hat Yai, Narathiwat, Songkla, Pattani & Krabi. Mengingat saya belum pernah eksplorasi daerah selatan Thailand yang kental dengan budaya Islam.

Eh kok malah tidak menyangka bisa masuk hari minggu tanggal 30 Jan kemarin. Padahal tidak ada persiapan sama sekali, karena awalnya cuman niat ngurus kerjaan di Kuala Terengganu (KT). Tapi karena Kota Bharu (KB) Kelantan hanya berjarak 1 jam 30 menit dari KT, ya akhirnya saya & nyonya sekalian mengunjungi klien kami di KB. Kalo sudah sampai KB ya nanggung juga kalo tidak mengunjungi Rantau Panjang yang dapat ditempuh dengan waktu 30 menit saja. Kamu bisa naik bis kesini dari KL, Seremban atau KB.

Rantau Panjang di ujung utara Kelantan adalah kota kecil yang berbatasan langsung dengan Thailand (Sungai Kolok) dan memiliki pasar tradisional yang terkenal menjual barang-barang murah dari Thailand termasuk jersey. Namun saat saya mengunjungi pasar ini untuk kedua kalinya kemarin, harga-harga jersey klub Thailand & Internasional sudah tidak murah lagi. Bahkan kalo kamu nambah budget dikit, kamu bisa mendapat jersey original jika beli di KL atau Jakarta atau Surabaya.

Ok itu tadi cerita singkat soal Rantau Panjang, kembali lagi ke cerita perjalan ke Sungai Kolok Narathiwat. Setelah menunaikan sholat Ashar di Masjid Beijing, bertemankan gerimis, saya berjalan kaki menuju Imigration Malaysia di Rantau Panjang. Jaraknya kurang dari 1 KM dari masjid. Tenang & tidak ragu, karena saya tidak sendirian, saya melihat banyak orang berjalan kaki juga masuk dari Thailand, ada juga yang naik ojek, ada yang naik sepeda motor & mobil pribadi.
Nah ini yang namanya Masjid Beijing, berarsitektur oriental. Rugi kalo ga sholat disini saat berada di Rantau Panjang. Gambar saya ambil dr Gugel.

Namun sore itu, pukul 17:56 PM counter imigrasi Malaysia nampak lengang, hanya saya seorang, tidak ada antrian. Counternya ada di sebelah kiri bangunan, nampak seperti loket pembelian tiket bus, bukan seperti counter imigrasi yang biasa kamu lihat di bandara KLIA, Soetta, Juanda & Hang Nadim. Pertanyaan-pertanyaan wajar akan dilontarkan oleh petugas. Setelah passport distempel, maka saya dipersilahkan melewati pintu dan menuju jembatan penyeberangan untuk melintasi Sungai Golok.
Penampakan gedung imigrasi Malaysia di Rantau Panjang sebelum hujan turun

Ya saya masih berjalan kaki sendirian, berjalan di lorong sebelah kiri jembatan setelah melewati pos penjagaan tentara Malaysia. Sementara disisi berlawanan nampak sekumpulan keluarga dari Thailand yang juga berjalan kaki, dengan pakaian menyerupai turis, mereka membawa barang belanjaan masuk ke Malaysia. Jembatan ini mungkin panjangnya tidak lebih dari 100 meter, karena saya hanya memerlukan waktu 3 menit untuk melintasinya.
 Nampak jembatan berada di depan mata setelah melewati imigration counter Rantau Panjang.

 Nah yang ini tepat berada di tengah-tengah jembatan.

 Sungainya tidak lebar dan juga membuat tenggorokan haus karena mirip teh tarik warna airnya hehe...

The power of emak-emak, naik motor keluar negeri cyynnn, sendirian lagi....elu mah apa!

Nah, Alhamdulillah jembatan sudah terlewati dengan lancar, bendera raksasa dan bangunan imigrasi Sungai Kolok Thailand juga sudah nampak jelas di depan mata. Kini tiba saatnya menghadapi tantangan sebenarnya yaitu komunikasi, baik dalam bahasa Kelantan, Bahasa Siam & Bahasa Thailand. Pengetahuan saya yg pas pasan dengan ketiga bahasa itu, justru dapat menyebabkan miss understanding. Tapi kalo ngomong pakai bahasa Inggris, sedikit dari mereka yang fluent in English.
Sebelah kiri adalah lorong untuk kendaraan ke Thailand, sedangkan sebelah kanan adalah lorong kendaraan yang masuk ke Malaysia.


Akhirnya saya masuk ke dalam bangunan, ternyata juga tak nampak terlalu ramai. Hanya 2 counter saya yang dibuka. Sedikit membingungkan tata ruangnya dan tidak terlalu rapi. Bahkan saya tidak menemukan arrival card yang biasa ditulis oleh turis, yang ternyata disimpan oleh petugas dan harus memintanya sendiri kepada mereka. Mungkin karena banyak yang sering keluar masuk, kalo diletakkan begitu saja, khawatir nanti bakal habis diambil oleh mereka yang biasa keluar masuk.
Ternyata, ada petugas yang kerjanya menuliskan arrival card. Saya melihat bapak gundul ini menerima duit RM3 sekali nulisin arrival card. Waktu itu ada antrian sekitar 3 orang yang minta tolong supaya dituliskan. Mungkin mereka tak tau menulis dalam huruf latin. Bagi saya, yang penting saya dapat kartunya dan saya minta menulis sendiri.

Namun hal tak disangka-sangka adalah, imigration staff Thailand di Sungai Kolok ini justru memilih menggunakan bahasa melayu berkomunikasi dengan saya walaupun saya sudah mencoba meng-intro mereka dengan bahasa Inggris. Seperti biasa, mereka menanyakan alamat tinggal di Thailand & berapa hari. Saya jawab selepas isya saya akan kembali kesini karena nyonya saya menunggu. Dan... jedddhessss... begitu bunyinya stempel.
 Mereka yang berdiri antri ini adalah yang membawa kendaran, karena counter di luar sudah panjang antriannya. Saya dilayani di counter 3.

Setelah passport distempel, saya keluar melalui pintu sisi kiri bangunan ini lalu lurus saja ke depan. Maka kamu akan nampak sekumpulan lelaki yang naik motor menggunakan rompi berwarna biru di depan bangunan ini, siapa lagi kalo bukan tukang ojek haha... Jangan keburu nafsu kalo sudah melewati gedung, observasi dulu, perhatikan apa saja yang ada disekitar supaya sedikit memahami kebiasaan warga di Sungai Kolok.
Bangunan imigrasi Sungai Kolok. Jangan membawa tulisan yang paling atas, artinya sama kok dengan yang bawah haha..
Nah itu dia sekumpulan tukang ojek Sungai Kolok yang lagi mangkal di depan kantor imigrasi menjemput "pasangannya".

Nah tujuan berikutnya adalah ke Masjid terdekat. Saya tidak tau namanya, dan saya tidak tau lokasinya. Saya hanya tau dari google map kalo ada masjid disekitar Sungai Kolok. Karena saya ingin merasakan sensasi & budaya sholat berjamaah bersama muslim Narathiwat. Selebihnya dari pengalaman itu adalah bonus, tidak ada prioritas lain dalam travelling saya kali ini. Dan akhirnya saya memanggil tukang ojek, lah kok yang datang tukang ojek pake baju kotak-kotaknya Jokowi dan ga pakai rompi, kayaknya kode buat saya.... hahayy...
 Entah muslim atau bukan, saat saya bilang saya mau ke Masjid orang itu langsung sebut harga aja. RM5 katanya. Dia juga ga tanya masjid namanya apa, disebelah mana. Pada saya nggak masalah, yang penting Masjid, lebi jauh lebih baik. Saya coba tawar RM3 dia ga mau, ok deh saya deal. Daripada pusing gara2 duit selisih RM2 aja hehe.

 Nah beginilah keadaanya kotanya. Bersih namun pengendara motor kurang tertib seperti di mana-mana negara di ASEAN.

Akhirnya sampai juga di Masjid, kurang lebih jaraknya 3 KM dari immigration Sungai Kolok. Tukang ojek ini menurunkan saya di pintu belakang, karena saya tidak melihat gapura atau gate bertuliskan nama masjid yang saya datangi ini. Hingga akhirnya saya masuk dan mencari dimana pintu depannya yang ternyata jalannya sedikit masuk ke dalam-dalam perkampungan.
Narsis dulu di pintu Masjid Ahmadiah Sungai Kolok Narathiwat dengan background 2 orang santrinya hehe.

Dan ini bagian dalam masjid yang terdapat sekolah madrasah, dan sore itu sedang berlangsung kegiatan belajar mengajar santri.

Tidak jauh berbeda dengan penduduk lokal, santri disini juga paham bahasa melayu. Namun saat sedang berobservasi di dalam masjid ini, saya menerima panggilan dari nyonya untuk segera balik kandang karena dia merasakan pada sakit di perutnya dan saya tidak sampai hati untuk mengatakan "nanti dulu, tunggu saya sholat mahgrib disini dulu". Yah saya putuskan untuk balik kanan dan kembali lebih awal dari rencana.

Ternyata saya lupa browsing info bagaimana mencari tukang ojek di Sungai Kolok selain dari mereka tukang ojek imigration yang menggunakan rompi biru haha... Karena saya coba mencari tukang ojek di simpang-simpang jalan juga tidak nampak tanda-tanda itu. Yang kebanyakan nampak adalah warung-warung makan yang ramai dikunjungi orang-orang lokal. Persis kayaknya ramainya kota kota kecil di Indonesia.
Kalo yang banyak motor kayak gini jelas bukan tukang ojek mangkal haha...Kayaknya mereka lagi beli gorengan.

Saya mencoba menunggu, tapi juga tidak lewat-lewat. Dan akhirnya saya putuskan mencari sambil berjalan menuju immigration. Setelah berjalan kurang lebih 500 meter akhirnya ada tukang ojek yang menggunakan rompi orange menghampiri, yang warna itu berarti tukang ojek berasal dari Rantau Panjang. Saya coba tawar RM3, tapi dia minta RM4. Ok deal, daripada jalan kaki ke immigration.
 Nah ini saya foto tukang ojeknya dari belakang. Ga tau artinya apa tulisan ini, tapi ada nomor punggungnya kok.

 Sampai juga di immigration building Sungai Kolok, kendaraan tidak terlalu ramai.

 Nah selain bisa antri stempel didalam gedung Sungai Kolok, kamu bisa juga antri disini (lorong kendaraan) bareng orang-orang yang juga masuk ke Malaysia. Setelah di stempel, langsung aja jalan ikuti arah kerumunan orang-orang yang ada di depanmu. Silahkan numpang kendaraan mereka kalo ga malu haha...

 Tidak ada yang berbeda dengan suasana diatas jembatan Sungai Kolok. Saya skip aja langsung ke suasana immigration counter di Rantau Panjang yang lebih rapi dan tersusun.

Nampak tukang ojeknya yang rompi orange juga bisa nyari penumpang ke luar negeri haha...Kamu kapan??

Dan Alhamdulillah,  akhirnya sampai juga saya kembali ke Malaysia, dan berjalan kaki ke Masjid Beijing karena nyonya menunggu saya disana. Dan saat itu pula bertepatan pula dengan berkumandangnya adzan magrib untuk negeri Kelantan yaitu sekitar 07.22 PM. Semoga berkenan dengan cerita ini, dan semoga bisa menjadi referensi anda ketika merancang perjalanan darat melalui Sungai Kolok. Sampai jumpa di cerita cerita perjalanan saya yang lain.
Wassalamualaikum Wr. Wb...

No comments:

Post a Comment